Cerita
ini gue tulis bukan karena gue membenci itik yang jelek. Bukan juga bermaksud
mengumpamakan seseorang sebagai seekor anak itik yang jelek, berbeda dengan
yang lainnya. Tapi judul cerita ini gue buat untuk mengumpamakan sebuah hubungan.
Gue
punya tiga adik dan satu orang kakak. Diantara ketiga adik gue, yang paling
nakal dan menyebalkan adalah si nomer empat. Dia paling sering bikin masalah,
paling sering bikin nyokap nangis, paling sering bikin bokap kehilangan mood
baik alias keki, paling sering bikin gue dan sodara-sodara lainnya betek,
marah, benci dan kesal dengan sikapnya. Suatu ketika, bokap dan nyokap sudah
kehabisan akal untuk membuat dia nurut hingga keduanya memberikan dua buah
pilihan, nurut atau keluar dari rumah. Dengan sangat lantang dan angkuh si
nomer empat memilih untuk keluar dari rumah. Tau reaksi gue, sodara-sodara gue
dan bokap nyokap? Semuanya nangis kecuali abang gue. Jawaban yang paling takut
bokap dan nyokap gue denger keluar dari mulut si nomer empat. Perasaan, jangan
ditanya. Sakit. Tidak mungkin ada orang tua yang rela anaknya menggelandang di
jalanan. Tidak ada orang tua yang rela anaknya kelaparan, kedinginan dan
terlantar di luar sementara mereka hidup dengan keadaan serba cukup di dalam
rumah yang tenang dan tentram. Suasana akan berubah. Keadaan akan berbeda dari
biasanya. Tidak ada yang seperti itu kecuali hati telah berubah menjadi batu.
Ancaman keluar dari rumah hanyalah “sekedar” ancaman belaka. Tidak serius.
Tidak mungkin. Tidak realistis. Begitu pulalah hubungan antara itik yang
terlahir jelek dan berbeda dengan saudara-saudaranya dan kedua orang tuanya.
Sejelek apapun, saudara kandung. Sejelek apapun, anak kandung. Tidak akan
berubah statusnya sampai kita meninggalkan dunia ini. Bahkan di akherat pun,
hubungan itu tetap diakui oleh yang bersangkutan maupun orang – orang yang
mengenal. Tetap terpatri dalam hati dan jiwa.
Gue
punya tiga orang sahabat. Dekat. Seperti saudara kandung. Diantara ketiga
sahabat gue ada sahabat yang paling gue sayangi. Bukan bermaksud membedakan.
Gue hanya melihatnya lebih spesial ketimbang yang lain karena dia memperlakukan
gue se-spesial gue memperlakukan dia. Analoginya, ketika kita sedang ke toko
sepatu, ada beberapa pasang sepatu yang kita sukai tapi pada akhirnya hanya
satu pasang sepatu yang kita pilih. Sepatu yang paling membuat kita merasa
spesial, paling klop dalam segala hal. Diantara ketiga sahabat, ada pula yang
paling sering membuat gue merasa keki, sebal, kesal dan tidak spesial
dibuatnya. Berkali-kali dibuat kecewa dan bosan dengan tingkahnya yang cuma
datang ketika butuh, walaupun tidak selalu, atau mungkin dia tidak merasa sama
sekali. Seperti hubungan persahabatan lain, persahabatan kita erat, kuat dan
cukup membuat kita tidak merasa sendirian di kota rantauan. Namun, seperti
gelas yang terus menerus di tuangi kopi hingga tumpah dan menodai area
sekitarnya. Pun begitu juga dengan kami bertiga yang mulai bosan dan jenuh
dengan sikap dan tingkahnya yang begitu. Nasihat-nasihat dan kepedulian kami
seolah hanya angin penyejuk disaat udara panas. Ketika udara menjadi dingin
kembali, kami tidak lagi dibutuhkan. Diabaikan. Tidak penting lagi baginya.
Ketika kami memutuskan untuk tidak lagi peduli dan menghiraukannya, dia akan
merasa terabaikan dan mendekat. Menangis, menyendiri, terlihat menderita.
Hubungan sahabat bukan hubungan sembarangan. Bukan hubungan yang bisa diputus
seperti seorang pacar yang sudah tidak lagi cinta kemudian pergi meninggalkan
yang lainnya. Hubungan sahabat jauh sekali lebih spesial dari itu. Lebih
berharga dari itu. Lebih dari hubungan apapun. Gue pribadi, jujur, tidak bisa
membiarkan hubungan yang spesial ini berantakan seperti kaca yang pecah dan
berhamburan. Gue sayang mereka. Mereka membuat hidup gue lebih berwarna dari
biasanya. Membuat hidup gue terasa sempurna dari biasanya. Membuat hidup gue
terasa lebih hidup dari biasanya. Meskipun bosan, kesal, keki, marah, jenuh
dengan sikapnya, tidak akan merubah hubungan sahabat kita menjadi lain. Gue gak
rela. Walaupun kadang gue gak bisa bohong dengan perasaan gue sendiri bahwa gue
kehilangan respek padanya, bahwa gue kehilangan rasa simpatik buat dia, bahwa
gue kehilangan rasa spesial dari dia, sahabat tetaplah sahabat. Gue Cuma
berharap bahwa suatu saat dia bisa “melihat” betapa hubungan kita patut
diperjuangkan dan dia mengerti akan satu dan dua hal yang kita harapkan
tentangnya, tentang kita. Saat ini dan dimasa depan.
Seperti
hubungan seekor anak itik jelek dengan saudara-saudara dan kedua orang tuanya.
Sejelek apapun, sahabat sendiri. Sampai kapanpun tetap sahabat. Tidak akan
berubah statusnya sampai kita meninggalkan dunia ini. Tetap terpatri dalam hati
dan jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar