Sabtu, 07 Juni 2014

Kamus Bahasa Kita

Kamus Bahasa Kita Sendiri. Seandainya gue harus meluncurkan sebuah buku dan itu adalah kamus maka akan gue terbitkan dengan bangga KAMUS BAHASA KITA SENDIRI 5 JUTA TRILYUN KOSAKATA. Keren gak tuh!

Kenapa? Yang namanya kata-kata kadang terucap begitu saja secara spontan. Refleks aja. Kadang juga kata-kata baru ini keluar dan populer karena mempermudah kita dalam mengungkapkan sesuautu. Ngomong jadi singkat, tapi jelas dan dimengerti. Conohnya, Lebai. Kita lebih suka mengucapkan kata Lebai ketimbang berlebih-lebihan atau hiperbola keterlaluan. Yea gak?

Nah, oleh sebab itu, gue luncurkanlah sebuah kamus yang bernama kamus bahasa kita sendiri. Tapi, entar, 5 juta trilyun tahun lagi. Lama yak? Iya iya lah, iya iya lah, untuk mengembangkan bahasa, setidaknya kita butuh waktu satu tahun untuk mengembangkan satu kosa kata bahasa. karena bakal lengkap banget tuh kamus, 5 juta trilyun kosa kata, maka perlu waktu 5 juta trilyun untuk membuatnya. Sabar yaaa.. hihi

Karya Pertama yang Dilombain

Akhirnya, gue memeranikan diri buat ikutan Writing Contest juga. Walaupun, yaaa cuman sekedar ikuta-ikutan dan gak terlalu berharap menang karena ini lomba pertama gue. Selama bermimpi jadi seorang penulis, baru pertama kali ini gue ikutan lomba. Haha. setelah umur gue 21 menjelang 22 gini nih gue baru berani ikutan lomba nulis. Padahal, bebagai workshop menulis udah gue ikutin demi untuk mengejar mimpi buat jadi penulis. Ya apa mau dikata kalo skill dan ilmu gue elum cukup buat sampe tahap sana. So, so, so, gue mau pamer dulu nih tulisan alias artikel yang bakal gue kirimin sebagai lomba nulis pertama gue. CHECK THIS OUT!!! (Gaya vj vj MTV)

Saya Tidak Tahu Diri Banget
Oleh Ratu Bilqis
Saya pernah membaca perjuangan seorang wanita dari NTT yang berjuang mati-matian untuk melestarikan lingkungan, namanya Aleta Baun. Luar biasa berat.
Dia mempengaruhi ratusan wanita di daerahnya untuk mengusir para penambang yang akan merusak lingkungan dan alam sekitar. Dia juga dituduh menyerobot hutan oleh pemerintah setempat. Namun pada akhirnya, alam berpihak padanya. Ia berhasil menyelamatkan sebagian kecil dari belahan bumi untuk ia lestarikan dan mendapatkan penghargaan The Goldman Environmental Prize di San Francisco, California. Dia juga pernah mendapar nominasi woman’s nobel prize for peace karena sederet prestasi lainnya.
Kenapa sih, Aleta Baun mau repot-repot memperjuangkan bumi? yang tinggal di bumi kan bukan hanya beliau? Begitu mungkin pikiran kita. Tapi tidak dengan Aleta, ia tahu persis bahwa kelestarian bumi patut dan pantas diperjuangkan. Siapa lagi yang harus memperjuangkan kalau bukan kita-kita sebagai penghuninya?! Itulah Aleta Baun.
Kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk ‘Bumi Kita’? Memperjuangkan tanah kampung halaman saja tidak, apalagi lingkungan orang lain. Membuang sampah pada tempatnya saja kadang-kadang. Menanam pohon juga jarang. Lingkungan kotor, biasa aja. Sampah dimana-mana, nggak galau. Pohon-pohon ditebangin, nggak galau juga. Hutan-hutan mulai gundul ter-exploitasi, nggak galau juga. Lahan tanam berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, malah bangga.
Giliran bumi terasa panas, marah-marah, galau, ngeluh. Ketika bumi menunjukkan reaksi atas apa yang telah kita perbuat, bencana alam, global warming, polusi diamana-mana baru deh kita sibuk kampanye ‘Lestarikan lingkungan hidup’. Terlebih-lebih, hanya ketika hari bumi saja kita seperti kebakaran jenggot, sibuk, repot melakukan ini-itu, untuk menjaga lingkungan. Lantas, dimana esensi hari bumi itu sendiri? Bukankah hari bumi dirayakan agar kita selalu ingat bahwa kita tidak tinggal di atas bumi hanya sehari-dua hari, tapi setiap hari selama satu tahun kedepan dan seterusnya dan seterusnya. Ketika orang-orang dengan kepentingan pribadi mulai lupa bahwa tidak ada lagi planet lain yang bisa ditinggali selain bumi, maka kita lah sebagai orang-orang yang ‘sadar’ yang berkewajiban melindunginya.

Ya ampun, betapa tidak tahu dirinya saya. Ya sudah, mulai sekarang saya akan berusaha semampu saya untuk melindungi bumi, minimal dengan membuang sampah pada tempatnya. Bagaimana dengan Anda?