Selasa, 02 April 2013

Gue, Saya, atau Aku?

Perbedaan kebudayaan dan kebiasaan di daerah satu dan daerah lainnya adalah hal yang absurd. Banget. Walaupun ada hal yang lebih absurd lagi namanya cinta. #Uppsss
Gue, adalah salah satu korban ke-absurd-an itu. Serba salah gue dibuatnya. Padahal, sebenernya, itu adalah hal yang paling sepele dan paling konyol untuk dibahas. Tapi tetep aja dibahas. Gue terima kalo lo bilang gue konyol karena ngebahas ini. Tapi gue gak terima kalo lo bilang gue anak GAUL!!!
Jadi gini, gue adalah korban kekonyolan itu. Kenapa gue sebut diri gue adalah korban? Karena lo tersangkanya!!! Iya, jadi gue dulu adalah seorang anak polos yang baik hati dan rajin menabung. Sekarang tidak. Gue sudah bertransformasi menjadi gadis lebay nan alay. Itu semua karena gue adalah korban ke-absurd-an budaya daerah. Waktu SD gue tinggal di sebuah perkampungan sunda yang menggunakan bahasa halus. Sehingga, kata-kata “gue” dianggap kasar dan dosa hukumnya mengucapkan kata “gue”. Dan akhirnya gue menggunakan kata “saya” sebagai kata ganti orang pertama. Lo kebayang gak sih, seorang anak SD lucu, imut, polos dan baik hati rajin menabung kayak gue berbicara dengan menyebut dirinya “saya” ? Bagi gue (sekarang) itu aneh dan formal banget. Begitu seterusnya sampe akhirnya, gue lulus SD dan diboyong orang tua pindah ke sebuah perkampungan betawi blasteran sunda kasar.
Kebiasaan gue menggunakan kata “saya” sudah mendarah daging dalam diri gue sehingga gue masih menggunakannya. Ketika mulai akrab dengan teman-teman di SMP, mereka mulai komen dengan kebiasaan gue ‘membahasakan’ diri dengan sebutan “saya”. Gue dibilang terlalu formal dan apa banget. Dalam hati gue bergumam, emang akika cewek apakah!!!???
Gue berpikir untuk merubah “saya” menjadi “aku” karena kata-kata “gue” masih asing dan gue anggap terlalu kasar. Teman-teman kembali komen dengan perubahan yang sengaja gue lakukan. Mereka bilang, “aku” itu menunjukkan keangkuhan dan kesombongan. Padahal lo tau kan, kewajiban gue adalah sombong. Gue bingung, frustasi lalu stress dan makan rumput sambil nangis dan bilang kalo rumputnya rasa keju. Akhirnya gue kembali menggunakan “saya” walaupun tetap merasa aneh.
Ketika gue memasuki SMA, yang berada di daerah pinggiran jakarta dan betawinya udah gak pake blasteran, gue mulai mendapati semuaaaaaaa teman-teman gue menggunakan “gue” dalam percakapan sehari-harinya. Well, for your information, “aku” dalam kebiudayaan teman-teman SMA gue dianggap cupu banget dan digunakan khusus bagi orang-orang yang berpacaran. Gue stress sambil nempelin pipi ke kaca dan bilang ‘aku pasti mimpi’. Gue galau layaknya anak alay lainnya. Ujung-ujungnya gue mulai membiasakan diri menggunakan “gue” dalam percakapan sehari-hari dengan teman sekolah. Walaupun awalnya agak risih karena masi melekat dalam diri gue bahwa “gue” terlalu kasar. Tapi akhirnya gue berhasil. Bahkan “gue” dalam diri gue rasakan lebih mendarah daging dibanding “saya” yang lebih lama gue pake.
Cerita gue belum berakhir happy ending sampe di situ. Memasuki masa kuliah, yang memaksa gue tinggal di daerah jawa tengah, gue kembali menjadi korban ke-absurd-an budaya daerah. Lagi-lagi gue dibilang ‘sok’ karena kebiasaan menggunakan “gue” dalam percakapan sehari-hari. Sok’ gaul, sok’ eksis, sok’ iga sapi, sok’ jagung, sok’ buntut, semuanya pernah menghampiri telinga gue. Menghantam gendang telinga gue dan membuat telinga gue mimisan. Enggak, itu lebay abis.
Gue teriak ‘Hey, world!! What’s wrong with you????’. Frustasi.
Seiring dengan berjalannya waktu, gue jadi tau. Kalo di Jawa Tengah, “aku” setara dengan “saya” di Sunda. Sopan dan biasa aja. Kembali gue mencoba membiasakan diri menggunakan kata ganti pertama yang baru yaitu “aku”. Sumpah demi apapun yang lewat depan kosan gue, ini absurd banget. Berkali-kali gue harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda kebudayaannya. Itu cobaan yang cukup berat untuk seorang gadis alay nan lebay seperti gue.
Ini endingnya, gue berhasil.
Pelajaran yang bisa gue petik adalah bahwa kata-kata apa pun yang kita gunakan tidak sepenuhnya menggambarkan siapa diri kita. Sombong kah? Pamer kah? Atau ingin terlihat Ghaawoull kah? Itu semua tergantung. Jangan menilai orang lain dari kata ganti pertama apa yang dia gunakan, tapi nilailah dari cover buku yang dia baca. Bagus atau tidak? Karena kata ganti apapun yang dia gunakan, yakinlah itu hanya kebiasaan semata. Walaupun mungkin, ada beberapa oknum yang masih menggunakan kata ganti pertama sebagai ajang ‘sok-sok-an’. Positif thinking lah kawan, not everyone is like what you think.

1 komentar: