Sabtu, 11 Januari 2014

ANAK ITIK JELEK

Cerita ini gue tulis bukan karena gue membenci itik yang jelek. Bukan juga bermaksud mengumpamakan seseorang sebagai seekor anak itik yang jelek, berbeda dengan yang lainnya. Tapi judul cerita ini gue buat untuk mengumpamakan sebuah hubungan.
Gue punya tiga adik dan satu orang kakak. Diantara ketiga adik gue, yang paling nakal dan menyebalkan adalah si nomer empat. Dia paling sering bikin masalah, paling sering bikin nyokap nangis, paling sering bikin bokap kehilangan mood baik alias keki, paling sering bikin gue dan sodara-sodara lainnya betek, marah, benci dan kesal dengan sikapnya. Suatu ketika, bokap dan nyokap sudah kehabisan akal untuk membuat dia nurut hingga keduanya memberikan dua buah pilihan, nurut atau keluar dari rumah. Dengan sangat lantang dan angkuh si nomer empat memilih untuk keluar dari rumah. Tau reaksi gue, sodara-sodara gue dan bokap nyokap? Semuanya nangis kecuali abang gue. Jawaban yang paling takut bokap dan nyokap gue denger keluar dari mulut si nomer empat. Perasaan, jangan ditanya. Sakit. Tidak mungkin ada orang tua yang rela anaknya menggelandang di jalanan. Tidak ada orang tua yang rela anaknya kelaparan, kedinginan dan terlantar di luar sementara mereka hidup dengan keadaan serba cukup di dalam rumah yang tenang dan tentram. Suasana akan berubah. Keadaan akan berbeda dari biasanya. Tidak ada yang seperti itu kecuali hati telah berubah menjadi batu. Ancaman keluar dari rumah hanyalah “sekedar” ancaman belaka. Tidak serius. Tidak mungkin. Tidak realistis. Begitu pulalah hubungan antara itik yang terlahir jelek dan berbeda dengan saudara-saudaranya dan kedua orang tuanya. Sejelek apapun, saudara kandung. Sejelek apapun, anak kandung. Tidak akan berubah statusnya sampai kita meninggalkan dunia ini. Bahkan di akherat pun, hubungan itu tetap diakui oleh yang bersangkutan maupun orang – orang yang mengenal. Tetap terpatri dalam hati dan jiwa.
Gue punya tiga orang sahabat. Dekat. Seperti saudara kandung. Diantara ketiga sahabat gue ada sahabat yang paling gue sayangi. Bukan bermaksud membedakan. Gue hanya melihatnya lebih spesial ketimbang yang lain karena dia memperlakukan gue se-spesial gue memperlakukan dia. Analoginya, ketika kita sedang ke toko sepatu, ada beberapa pasang sepatu yang kita sukai tapi pada akhirnya hanya satu pasang sepatu yang kita pilih. Sepatu yang paling membuat kita merasa spesial, paling klop dalam segala hal. Diantara ketiga sahabat, ada pula yang paling sering membuat gue merasa keki, sebal, kesal dan tidak spesial dibuatnya. Berkali-kali dibuat kecewa dan bosan dengan tingkahnya yang cuma datang ketika butuh, walaupun tidak selalu, atau mungkin dia tidak merasa sama sekali. Seperti hubungan persahabatan lain, persahabatan kita erat, kuat dan cukup membuat kita tidak merasa sendirian di kota rantauan. Namun, seperti gelas yang terus menerus di tuangi kopi hingga tumpah dan menodai area sekitarnya. Pun begitu juga dengan kami bertiga yang mulai bosan dan jenuh dengan sikap dan tingkahnya yang begitu. Nasihat-nasihat dan kepedulian kami seolah hanya angin penyejuk disaat udara panas. Ketika udara menjadi dingin kembali, kami tidak lagi dibutuhkan. Diabaikan. Tidak penting lagi baginya. Ketika kami memutuskan untuk tidak lagi peduli dan menghiraukannya, dia akan merasa terabaikan dan mendekat. Menangis, menyendiri, terlihat menderita. Hubungan sahabat bukan hubungan sembarangan. Bukan hubungan yang bisa diputus seperti seorang pacar yang sudah tidak lagi cinta kemudian pergi meninggalkan yang lainnya. Hubungan sahabat jauh sekali lebih spesial dari itu. Lebih berharga dari itu. Lebih dari hubungan apapun. Gue pribadi, jujur, tidak bisa membiarkan hubungan yang spesial ini berantakan seperti kaca yang pecah dan berhamburan. Gue sayang mereka. Mereka membuat hidup gue lebih berwarna dari biasanya. Membuat hidup gue terasa sempurna dari biasanya. Membuat hidup gue terasa lebih hidup dari biasanya. Meskipun bosan, kesal, keki, marah, jenuh dengan sikapnya, tidak akan merubah hubungan sahabat kita menjadi lain. Gue gak rela. Walaupun kadang gue gak bisa bohong dengan perasaan gue sendiri bahwa gue kehilangan respek padanya, bahwa gue kehilangan rasa simpatik buat dia, bahwa gue kehilangan rasa spesial dari dia, sahabat tetaplah sahabat. Gue Cuma berharap bahwa suatu saat dia bisa “melihat” betapa hubungan kita patut diperjuangkan dan dia mengerti akan satu dan dua hal yang kita harapkan tentangnya, tentang kita. Saat ini dan dimasa depan.

Seperti hubungan seekor anak itik jelek dengan saudara-saudara dan kedua orang tuanya. Sejelek apapun, sahabat sendiri. Sampai kapanpun tetap sahabat. Tidak akan berubah statusnya sampai kita meninggalkan dunia ini. Tetap terpatri dalam hati dan jiwa.