Akhirnya, gue memeranikan diri buat ikutan Writing Contest juga. Walaupun, yaaa cuman sekedar ikuta-ikutan dan gak terlalu berharap menang karena ini lomba pertama gue. Selama bermimpi jadi seorang penulis, baru pertama kali ini gue ikutan lomba. Haha. setelah umur gue 21 menjelang 22 gini nih gue baru berani ikutan lomba nulis. Padahal, bebagai workshop menulis udah gue ikutin demi untuk mengejar mimpi buat jadi penulis. Ya apa mau dikata kalo skill dan ilmu gue elum cukup buat sampe tahap sana. So, so, so, gue mau pamer dulu nih tulisan alias artikel yang bakal gue kirimin sebagai lomba nulis pertama gue. CHECK THIS OUT!!! (Gaya vj vj MTV)
Saya
Tidak Tahu Diri Banget
Oleh Ratu Bilqis
Saya
pernah membaca perjuangan seorang wanita dari NTT yang berjuang mati-matian
untuk melestarikan lingkungan, namanya Aleta Baun. Luar biasa berat.
Dia
mempengaruhi ratusan wanita di daerahnya untuk mengusir para penambang yang
akan merusak lingkungan dan alam sekitar. Dia juga dituduh menyerobot hutan
oleh pemerintah setempat. Namun pada akhirnya, alam berpihak padanya. Ia berhasil
menyelamatkan sebagian kecil dari belahan bumi untuk ia lestarikan dan mendapatkan
penghargaan The Goldman Environmental
Prize di San Francisco, California. Dia juga pernah mendapar nominasi woman’s nobel prize for peace karena
sederet prestasi lainnya.
Kenapa
sih, Aleta Baun mau repot-repot memperjuangkan bumi? yang tinggal di bumi kan
bukan hanya beliau? Begitu mungkin pikiran kita. Tapi tidak dengan Aleta, ia
tahu persis bahwa kelestarian bumi patut dan pantas diperjuangkan. Siapa lagi
yang harus memperjuangkan kalau bukan kita-kita sebagai penghuninya?! Itulah
Aleta Baun.
Kita?
Apa yang sudah kita lakukan untuk ‘Bumi Kita’? Memperjuangkan tanah kampung
halaman saja tidak, apalagi lingkungan orang lain. Membuang sampah pada
tempatnya saja kadang-kadang. Menanam pohon juga jarang. Lingkungan kotor,
biasa aja. Sampah dimana-mana, nggak galau. Pohon-pohon ditebangin, nggak galau
juga. Hutan-hutan mulai gundul ter-exploitasi, nggak galau juga. Lahan tanam
berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, malah bangga.
Giliran
bumi terasa panas, marah-marah, galau, ngeluh. Ketika bumi menunjukkan reaksi
atas apa yang telah kita perbuat, bencana alam, global warming, polusi
diamana-mana baru deh kita sibuk kampanye ‘Lestarikan lingkungan hidup’.
Terlebih-lebih, hanya ketika hari bumi saja kita seperti kebakaran jenggot,
sibuk, repot melakukan ini-itu, untuk menjaga lingkungan. Lantas, dimana esensi
hari bumi itu sendiri? Bukankah hari bumi dirayakan agar kita selalu ingat
bahwa kita tidak tinggal di atas bumi hanya sehari-dua hari, tapi setiap hari
selama satu tahun kedepan dan seterusnya dan seterusnya. Ketika orang-orang
dengan kepentingan pribadi mulai lupa bahwa tidak ada lagi planet lain yang
bisa ditinggali selain bumi, maka kita lah sebagai orang-orang yang ‘sadar’
yang berkewajiban melindunginya.
Ya
ampun, betapa tidak tahu dirinya saya. Ya sudah, mulai sekarang saya akan
berusaha semampu saya untuk melindungi bumi, minimal dengan membuang sampah
pada tempatnya. Bagaimana dengan Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar